Pages

Kucari Cinta di Antara Cinta

Diary hati, Ramadhan 1422 H

Cinta kepadaMu tidak mungkin bisa terbagi. Aku cinta bukan karena mengharap surgaMu tapi murni sebagai wujud pengabdian yang tulus terlepas apapun balasanMu. Bukankah Rabi'ah Al-'Adawiyah pernah berkata: "Tuhanku, kalau aku mengabdi kepadaMu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku pada neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lain di neraka itu bagi hamba-hambaMu yang lain. Kalau aku menyembahMu berharap mendapat surga, berikan surga itu kepada hamba-hambaMu yang lain sebab bagiku Engkau sudah cukup".

Aku hamba yang bercita-cita memiliki cinta seperti Rabi'ah Al-'Adawiyah, tapi kenyataannya masih jauh dari harapan. Hatiku masih tertambat pada selainMu. Tidak seperti Rabi'ah Al-'Adawiyah yang tegas menolak lamaran Gubernur Sofyan Ats-Tsauri karena cintanya padaMu tidak mau terbagi. Tapi aku tetap merindukan seseorang yang kini selalu masuk dalam mimpiku. Ya Allah, dosakah aku?

Ketaatan dia pada aturanMu yang menarik hatiku. Tutur katanya yang penuh hikmah telah menyentuh hatiku. Saat dia menyampaikan ayatMu seolah aku melihat seorang arjuna tengah mengkhitbahku. Rasa cintaku bertambah terutaman usai kegiatan Ramadhan ketika aku tidak melihatnya sebanyak aku melihatnya pada bulan Ramadhan.

Tapi semoga Kau memahami kegalauan hatiku. Bukankah Kau ciptakan laki-laki sebagai pasangan wanita? Jika ya, izinkah aku memiliki arjuna yang aku dambakan. Jika dia baik bagiku, sampaikanlah bisikan hatiku. Jika tidak baik bagiku, tolong lenyapkanlah baying-bayang wajahnya.

Sebagai muslimah yang taat, aku sering istighfar saat tak sengaja memandangnya dengan penuh rasa cinta. Dosakah aku? Bahkan secara sadar aku ingin dia memandangiku. Riyakah aku? Semoga tidak. Tapi sebagai seorang wanita, rasa cintaku hanya bergemuruh di kalbu tak mampu aku ungkapkan. Atau wanita memang diciptakan untuk diam seribu bahasa ketika segudang cinta bertambat di dada?

Diary hati, Shafar 1423 H

Tapi saying sekali gemuruh dada itu kini harus lenyap. Cintaku pada laki-laki itu harus bertepuk sebelah tangan. Sebagai hamba yang lemah, aku telah sukses menunjukkan kelemahanku. Aku hanya bias berharap tetapi tidak bias berbuat banyak. Aku memang bodoh tak pandai merayu, tapi aku hargai kebodohanku. Kini kumbang itu telah mengkhitbah bungan yang juga tetanggaku.

Tapi bukankah khitbah bukan berarti nikah. Belum tentu pertunangan itu berlanjut pada pernikahan. Karenanya izinkan aku masih merindukannya walaupun di hatinya sudah ada yang lain (?). Tapi aku tidak mau mendo'akan agar pertunangannya bubar. Aku hanya mampu berharap, Engkaulah ya Allah! Yang Maha Adil, aku siap menerima apapun keputusanMu.

Diary hati, Sya'ban 1423 H

Kini di tengah kerumunan undangan aku tak sedikit pun merasa bersedih karena aku telah siap menerima segala keputusanMu. Aku ucapkan selamat atas pernikahannya. Aku do'akan semoga rumah tangganya sakinah dan dikaruniai keturunan yang shalih dan shalihah.

Namun cintaku pada dia tetap tidak berubah. Aku tetap mencintainya walaupun tidak mungkin memilikinya (?). Di hati kecilku kadang terlintas untuk tetap mengharapkannya sekalipun menjadi isteri kedua. Aku sebenarnya siap saja. Tapi bagaimana isterinya sekarang, relakah? Hanya Engkau ya Allah Yang Maha Tahu segalanya.

----------
Taken from "Nurni Cinta yang Hilang"
by Abu Al-Ghifari

No comments: